BULAN BERDARAH DI LANGIT SUNGSANG

BULAN BERDARAH DI LANGIT SUNGSANG

Pas bongkar – bongkar arsip, ketemu foto ini. Foto tahun 2018 lalu, waktu saya menemani personel perusahaan milik orang terkaya no 3 Indonesia ambil sampel air sungai Sungsang, di ujung Tanjung si Api – Api sana, 85 Kilometer dari pusat kota Palembang.

Minggu itu saya dapat telphone, ada rencana perusahaan si Bos lakukan penelitian mengenai kualitas air sungai Sungsang untuk dijadikan air boiler pabrik. Mereka minta saya menemani petugasnya ke lokasi.

Standar mereka, ambil air setiap 1 jam, selama 24 jam, pas sungai pasang, sungai surut, atau waktu tertentu lainnya. Di ujung sungai Sungsang sana mereka tahu tingkat keasinan tinggi. Dekat ke arah selat bangka soalnya. Namun berapa asin, apa saja mineral di dalam air, dan kadar lumpur pada tiap jam adalah item yang hendak di ukur.

Jadwal pengambilan air kali ini adalah Rabu, 31 January 2018. Hari itu media sedang ramai soal 3 Fenomena Alam yang akan terjadi sekaligus. Supermoon, Blue Moon, dan Blood Moon. Langka karena perlu waktu 150 tahun untuk 3 fenomena ini bisa serempak bertemu kembali.

Disebut Supermoon karena ukuran purnamanya yang lebih besar, jarak bulan sedang sangat dekat dengan bumi. Blue Moon karena ini purnama kedua kali pada bulan yang sama, dan Blood Moon karena Gerhana bulan total yang menyebabkan bulan menjadi merah darah.

Saya dan team peneliti sudah di atas perahu kecil sejak pagi, mengambil sampel air. Badan lelah habis. Malam pun tiba. Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, dan diatas langit bulan terlihat mulai memerah.

Tak ada cahaya lampu sama sekali di sekitar sungai. Gelap. Kami jauh dari pemukiman. Perahu kami satu – satunya di atas sungai. Cahaya hanya berasal dari bulan di atas kepala. Namun kali ini berbeda, bulan memancarkan semburat warna merah.

BACA JUGA :   10 PENYEBAB AGENT BARU GAGAL BERKEMBANG MENJADI AGENT PROFESIONAL

Saya duduk di bagian paling belakang kapal. Sendirian. Team semua di depan. Mata terpejam tak kuasa menahan kantuk dan lelah. “Plok” ada yang menepuk pundak. Mata saya terbuka. Saya lihat tak ada siapa – siapa. Mungkin burung tak sengaja tertabrak. Mata kembali terpejam. Dan “Plok” kembali ada yang menepuk. Saya kembali membuka mata. Tak ada apapun. Dan cukup dua kali tepukan untuk saya sadar peringatan yang di berikan. Mata saya tak berani lagi menutup. Belum tentu ada tepukan ketiga.

Saya tahu, andai saya tertidur, dengan posisi saya di ujung belakang kapal yang tanpa penghalang, saya akan jatuh ke dalam sungai. Itu sungai lebarnya 500 meter, sangat dalam, dengan arus bawah yang sangat kuat. Nyawa bisa melayang bila terbawa air.

Entah apa yang menepuk saya. Tapi saya tahu itu sesuatu yang baik. Mungkin “penduduk setempat”, mungkin leluhur yang tiap hari di doakan orang tua saya, atau mungkin malaikat penjaga saya. Apapun itu, saya berterima kasih, tanpa peringatannya saya sungguh dalam bahaya.

Saya lihat di HP, jam 20.30. Di langit sedang puncak – puncaknya terjadi Super Moon Blood Moon. Entah kemana semua awan dan kabut di langit. Dari buritan kapal terlihat bulan besar sekali, warna merah darah.

Sekitar sungai menjadi merah semua. Satu jam berlalu, atmosfer mistik memudar. Langit mulai dipenuhi cahaya putih kebiruan. Gerhana Blood Moon pergi. Blue Moon datang.

Sungai menjadi terang dan indah sekali. Tapi tetap mata ini tak lagi berani saya katupkan, biarlah terjaga sampai pagi.

by : Wandi